Cara Mengatasi Kegalauan dengan Move On ala Islami
Cara Mengatasi Kegalauan dengan Move On ala Islami
- Anak muda terkadang memang ribet, apalagi yang sering galau.
Masalahnya, anak muda yang galau ini tidak hanya menyusahkan diri
sendiri, tetapi juga menyusahkan bapak-ibunya, kakak-adiknya, kakek-neneknya,
paman-bibinya, tetangganya, RT-RW-nya, dan banyak lagi. (alay banget yaa ..
hehehe)
Galau ditandai dengan banyak
melamun, menyendiri di kamar sambil mendengarkan lagu-lagu mellow,
menganggap diri paling malang sedunia, sehingga paling layak dikasihani, dan
berharap ada keajaiban yang datang sebagaimana yang bisa dilihat di
sinetron-sinetron Korea. Ini dinamakan galau karena cinta, karena cinta
bertepuk sebelah tangan.
Merasa dengan menyiksa diri, lantas
ada yang bersimpati kepadanya dan akhirnya happy ending kayak cerita-cerita
romantisme ndeso. Menyiksa diri demi mendapatkan perhatian dikira
keren, saya sebut itu perilaku tak cerdas yang sangat akut.
But yeah, tak
semua galau itu negatif. Ada juga galau yang mesti dipelihara, galau
yang positif. Galau yang menyelamatkan kita, baik di dunia maupun akhirat.
Di sini akan dibahas jenis-jenis galau, bagaimana memelihara galau positif dan
bagaimana nge-block yang namanya galau negatif (report spam
sekalian).
Ok, sekarang yang penting adalah
mengatasi rasa galau, resah, gelisah, dilema, whatever you named it.
Manusia ciptaan Allah SWT. diberi satu hal yang juga diberikan kepada makhluk
hidup yang lain, yaitu kemampuan untuk merasa. Dalam permbahasan kita
ini dinamakan dengan Naluri.
Pada manusia, Naluri secara
penampakan setidaknya ada 3 bagian, yaitu :
- Naluri untuk mempertahankan eksistensi diri
- Naluri untuk melanjutkan keturunan
- Naluri untuk mengagungkan sesuatu
Naluri ini fitrah ada dalam diri manusia, bukan merupakan bagian
dari kelemahan, namun perlengkapan yang diberikan oleh Allah SWT. untuk
menghamba kepadanya secara sempurna. Naluri ini tak dapat dilihat dari
eksistensinya, namun dapat diketahui adanya dari penampakan-penampakan yang
bisa diindera (please do not associate it with that kind of 'penampakan'
will you?)
Manusia memiliki naluri
mempertahankan eksistensi diri, yang akan muncul bila eksistensinya terancam.
Sebut saja orang marah bila dihina, kesal bila
diabaikan, senang dipuji, saat diberikan foto sekelas selalu mencari wajahnya
lebih dulu di antara kerumunan foto. Itu penampakan naluri
mempertahankan eksistensi diri. Naluri ini bersifat egosentris,
yaitu mendahulukan diri dibandingkan dengan yang lain.
Selain itu, yang paling mudah
diindera adalah naluri untuk melanjutkan keturunan,
sometimes we call it love to make it simple.
Rasa sayang kepada orangtua, kepada adik-kakak, dan keluarga lainnya,
kepada lawan jenis, bahkan kepada manusia secara keseluruhan. Ini naluri yang
kedua, dan dia lebih bersifat anti-individual. Seorang ibu rela tidak
makan demi anaknya, seorang suami bekerja keras demi makanan yang halal.
Pengorbanan kepada selain diri sendiri adalah bentuk yang sering kita lihat
dalam naluri ini.
Sedangkan jenis naluri yang ketiga
adalah naluri manusia untuk menyucikan sesuatu, menganggapnya agung dan besar.
Pada zaman nenek moyang kita, kita melihat penampakan ini ketika manusia
menyembah matahari, batu, pohon besar, dan segala sesuatu yang membuatnya
takjub. Manusia merasa perlu untuk mengagungkan dan menyembah sesuatu, merasa
kecil di hadapan sesuatu. Mudahnya, naluri yang ketiga ini adalah naluri
untuk ber-Tuhan.
Nah, dari
manakah datangnya galau,resah, gelisah, dilema itu?
Tidak diragukan lagi, datangnya
adalah dari naluri-naluri yang tak mendapatkan pemenuhan ini. Berbeda
dengan kebutuhan jasmani yang bila tidak dipenuhi akan mengakibatkan kematian
atau kerusakan fisik. Keinginan naluri yang tak dipenuhi tiada pernah
mengakibatkan kerusakan fisik atau kematian, namun munculnya rasa galau tadi. Kecuali,
Anda memutuskan untuk lompat dari ujung tower sutet, itu lain
cerita. (hahaha ..)
Setiap naluri yang tak
terpenuhi, maka galau akan terasa. Itu yang harus kita pahami.
And
the good news is, unlike
kebutuhan jasmani yang tak bisa ditawar-tawar, keinginan naluri fully under
our control, bisa kita kendalikan, sehingga kita bisa mengusir galau dan
mengundang galau sesuka hati, mengalihkan galau ataupun mentransfer galau.
Serius, I really meant it.
Nah, masalah galau kepada Sang
Pencipta, tentu tak perlu dikhawatirkan, simpan saja dan kembangkan, it's really have such a feelings toward Allah, no need to
worry.
Tapi, kita coba bahas galau yang
dialami anak muda zaman sekarang, galau karena cinta. Pada dasarnya, sebuah
naluri (apapun nalurinya) akan menguat saat kita hadirkan rangsangan
terus-menerus. Sebaliknya, akan melemah dan hilang saat kita tak menghadirkan
rangsangan itu lagi. Ini merupakan dasar dari
perasaan.
"Lalu,
bagaimana hilangkan galau karena cinta?"
Jawabannya mudah. Menikahlah
saudaraku, maka engkau akan selamat dari galau.
"Lha, saya kan masih
sekolah?"
"Lha, saya kan masih
kuliah?"
"Lha, saya kan masih bukan
manusia?" (cekikik ..)
Nah, kalau sadar belum sanggup
menikah, mengapa memperkuat naluri tentang yang satu ini? Berarti kita bertaruh
dalam permainan yang belum bisa kita menangkan, berjalan dalam jalur yang belum
bisa kita tempuh.
Maka solusinya, alihkan naluri
itu. Caranya, jangan liat-liat, jangan
bayang-bayangin (emang bayangan), jangan denger-denger, jangan baca-baca
tentangnya, jangan deket-deket, jangan ngobrol-ngobrol, jangan pinjem-pinjem
catetan, jangan duduk-duduk dampingan, jangan kerja-kerja kelompok fiktif.
Dijamin, takkan muncul rasa yang seharusnya tak ada, Insya Allah.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar